Kabanjahe, Rabu 05 Maret 2025. Penyesalan dan pertobatan umat manusia. Pada abad ke-5 SM, sesudah Yunus berseru agar orang-orang kembali kepada Tuhan dan melakukan pertobatan, Kota Niniwe kemudian memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung serta taja Pada Perjanjian Lama, abu digunakan sebagai lambang perkabungan, rasa menyelubungi dirinya dengan kain kabung lalu duduk di atas abu.
Yesus juga telah menyinggung pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa. Gereja Perdana juga menggunakan abu sebagai simbolis yang serupa. Sesudah abad pertengahan, gereja memakai abu sebagai tanda dimulainya masa pertobatan Pra-Paskah. Sebagai tanda kita sudah menyesali segala dosa yang telah diperbuat.
Pada perayaan Rabu Abu sekarang ini, abu berasal dari daun palma yang telah diberkati di hari Minggu Palma pada tahun sebelumnya yang dibakar.
Pada 5 Maret 2025, Gereja Katolik di seluruh dunia akan merayakan “Rabu Abu”, yang menjadi tanda dimulainya Masa Prapaskah. Masa ini merupakan periode pertobatan, pengendalian diri, dan pembaruan spiritual dalam persiapan menyambut Paskah, hari Kebangkitan Yesus Kristus.
Sejarah dan makna teologis Rabu Abu memiliki peran yang mendalam dalam tradisi Gereja Katolik. Perayaan ini menandai awal perjalanan 40 hari sebelum Paskah, yang dipersembahkan untuk refleksi dan pertobatan.
Penggunaan abu dalam tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam sejarah Gereja dan dimensi teologis yang mengajarkan tentang kefanaan manusia serta perlunya belas kasih dan pengampunan Allah.
Untuk memperingati hari rabu abu SMA Swasta Santa Maria Kabanjahe melaksanakan misa untuk memperingati manusia yang terbuat dari abu dan kembali menjadi abu.
“Selamat hari Rabu Abu”
Salam SFD…